Tentuada yang salah yang mungkin tidak diterapkan oleh para petani sehingga sebagian besar petani Indonesia hidupnya masih tidak sejahtera. Pada kesempatan kali ini kami akan mengulas beberapa alasan mengapa petani Indonesia tidak sejahtera. Semoga ini bisa menjadi bahan evaluasi diri bagi para petani sekalian. Cara Menanam Pepaya California. 1.
Petani harus mengantisipasi musim kemarau setiap tahunnya. Ancaman kemarau panjang dapat menyebabkan kekeringan dan membuat petani mengalami gagal panen.. Maka dari itu, para petani diimbau untuk memanfaatkan asuransi sebagai salah satu komponen dalam usaha tani untuk mitigasi risiko apabila terjadi gagal panen. "Jika usaha tani atau ternak mengalami gagal panen, petani akan
BudidayaTanaman Padi Iklim Media tanah Kapan Waktu Yang Tepat Menanam Padi Walaupun padi dapat ditanam sepanjang tahun, namun pada dasarnya petani menanam padi berdasarkan ketersediaan air, yang dapat dikelompokkan menjadi tiga periode tanam yaitu : Musim tanam utama, pada bulan Nopember, Desember, Januari, Pebruari dan Maret;
MusimKemarau, Petani Manfaatkan Rawa yang Mengering Para petani di Desa Meru, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur memanfaatkan lahan rawa yang mengering karena musim kemarau, dengan menanam jenis tanaman palawija Petani memanfaatkan tanah gembur dengan sisa air di rawa yang mengering dengan menanam melon, semangka dan palawija
Artinya, ketika musim kemarau seperti saat ini, maka petani harus menggunakan varietas yang tahan kemarau. Sehingga bisa tahan terhadap serangan hama," kata dia. Aksi tanam padi secara terus-menerus itu sendiri berkaitan dengan gerakan percepatan tanam yang kini sedang digalakkan Badan Karantina Pertanian.
YcJFBKI. – Petani di Kabupaten Sukoharjo serempak menanam padi, pekan ini. Ditandai penanaman di Desa Pandeyan, Kecamatan Grogol oleh Bupati Sukoharjo Etik Suryani, Selasa 30/5/2023. Sebagai upaya menjaga ketahanan pangan jelang musim kemarau, sekaligus sebagai lumbung pangan Jawa Tengah Jateng. Pada kesempatan tersebut, Etik didampingi Wakil Bupati Sukoharjo Agus Santosa, Komandan Kodim 0726/Sukoharjo Letkol Czi Slamet Riyadi, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Distankan Sukoharjo Bagas Windaryatno, dan jajaran terkait. Juga diserahkan bantuan kepada 11 kelompok tani. Di antaranya bantuan pembangunan embung senilai Rp 600 juta, bantuan jalan produksi pertanian Rp 100 juta, rehabilitasi jaringa irigasi tersier, hand tractor, cultivator, pompa air, serta kendaraan roda tiga. Etik menjelaskan, Kota Makmur masih surplus beras tahun lalu. Surplus tersebut mencapai ton. Meskipun masih terdampak pandemi Covid-19 dan anomali iklim. Ini semua tak lepas dari penerapan inovasi teknologi dan mitigasi, terhadap dampak perubahan iklim. “Kabupaten Sukoharjo masih menjadi lumbung padi di Jawa Tengah. Walaupun surplus, kami terus berupaya meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan,” ungkap Etik. Di sisi lain, Etik mengingatkan potensi kemarau panjang periode Mei-September mendatang. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG, tahun ini Indonesia akan dilanda fenomena El Nino. Kondisi tersebut diprediksi berpeluang 60 terjadi pada Mei-Juli. Kemudian 80 persen terjadi pada September. Supaya ketahanan pangan tetap terjaga di Kota Makmur, perlu disiasati dengan serempak menanam padi. Memanfaatkan ketersediaan air yang ada, untuk menghindari risiko gagal panen karena kekeringan. “Kepada seluruh petani, segera mempercepat tanam padi. Supaya tidak mengalami puncak musim kemarau pada Agustus nanti. Sehingga fase tanaman sudah tidak memerlukan air lagi,” imbuh Etik. Sementara itu, Kepala Distankan Sukoharjo Bagas Windaryatno berharap ketersediaan air dimanfaatkan seefisien mungkin. Sekaligus mengimbau agar dilakukan percepatan tanam padi. “Jika ada permasalahan segera komunikasikan dengan PPL petugas pendamping lapangan. Supaya ikut mendampingi dan besama-sama mencari solusi bersama petani,” bebernya. kwl/fer/dam Reporter Iwan Kawul – Petani di Kabupaten Sukoharjo serempak menanam padi, pekan ini. Ditandai penanaman di Desa Pandeyan, Kecamatan Grogol oleh Bupati Sukoharjo Etik Suryani, Selasa 30/5/2023. Sebagai upaya menjaga ketahanan pangan jelang musim kemarau, sekaligus sebagai lumbung pangan Jawa Tengah Jateng. Pada kesempatan tersebut, Etik didampingi Wakil Bupati Sukoharjo Agus Santosa, Komandan Kodim 0726/Sukoharjo Letkol Czi Slamet Riyadi, Kepala Dinas Pertanian dan Perikanan Distankan Sukoharjo Bagas Windaryatno, dan jajaran terkait. Juga diserahkan bantuan kepada 11 kelompok tani. Di antaranya bantuan pembangunan embung senilai Rp 600 juta, bantuan jalan produksi pertanian Rp 100 juta, rehabilitasi jaringa irigasi tersier, hand tractor, cultivator, pompa air, serta kendaraan roda tiga. Etik menjelaskan, Kota Makmur masih surplus beras tahun lalu. Surplus tersebut mencapai ton. Meskipun masih terdampak pandemi Covid-19 dan anomali iklim. Ini semua tak lepas dari penerapan inovasi teknologi dan mitigasi, terhadap dampak perubahan iklim. “Kabupaten Sukoharjo masih menjadi lumbung padi di Jawa Tengah. Walaupun surplus, kami terus berupaya meningkatkan produksi dan produktivitas tanaman pangan,” ungkap Etik. Di sisi lain, Etik mengingatkan potensi kemarau panjang periode Mei-September mendatang. Berdasarkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika BMKG, tahun ini Indonesia akan dilanda fenomena El Nino. Kondisi tersebut diprediksi berpeluang 60 terjadi pada Mei-Juli. Kemudian 80 persen terjadi pada September. Supaya ketahanan pangan tetap terjaga di Kota Makmur, perlu disiasati dengan serempak menanam padi. Memanfaatkan ketersediaan air yang ada, untuk menghindari risiko gagal panen karena kekeringan. “Kepada seluruh petani, segera mempercepat tanam padi. Supaya tidak mengalami puncak musim kemarau pada Agustus nanti. Sehingga fase tanaman sudah tidak memerlukan air lagi,” imbuh Etik. Sementara itu, Kepala Distankan Sukoharjo Bagas Windaryatno berharap ketersediaan air dimanfaatkan seefisien mungkin. Sekaligus mengimbau agar dilakukan percepatan tanam padi. “Jika ada permasalahan segera komunikasikan dengan PPL petugas pendamping lapangan. Supaya ikut mendampingi dan besama-sama mencari solusi bersama petani,” bebernya. kwl/fer/dam Reporter Iwan Kawul
Makassar ANTARA - Badan Metereologi, Klimatologi dan Geofisika BMKG telah memprediksi bahwa Indonesia akan menghadapi musim kemarau lebih kering dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Curah hujan yang turun selama musim kemarau diprediksi akan normal hingga lebih kering dibandingkan biasanya, sehingga bencana kekeringan bisa mengancam sejumlah sektor kehidupan, seperti pertanian, kebakaran hutan, krisis air, hingga sejumlah penyakit yang muncul akibat perubahan cuaca ekstrem. BMKG juga memprediksi musim kemarau tahun 2023 tiba lebih awal dari sebelumnya. Maka berdasarkan analisis BMKG, saat ini sebesar 28 persen atau 194 zona musim wilayah Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Jika tiga tahun terakhir 2020-2022 kerap didapati hujan di musim kemarau, maka diprediksi hal tersebut tidak akan terjadi pada 2023 ini. Berdasarkan laman resmi BMKG, turunnya hujan di musim kemarau tiga tahun terakhir dipicu peristiwa La Nina yang mengakibatkan iklim basah. Namun pemantauan terbaru, suhu permukaan laut di Samudra Pasifik menunjukkan bahwa saat ini intensitas La Nina terus melemah, dengan indeks pada awal Februari 2023 sebesar -0,61. Suhu muka air laut di Samudra Pasifik yang terus melemah mengarah pada El Nino pada Juni 2023 yang berakibat semakin menghangat kawasan tersebut. Peristiwa El Nino ini berlawanan dengan La Nina. El Nino adalah suatu fenomena di mana suhu permukaan laut SST di Samudera Pasifik mengalami peningkatan di atas kondisi normal. Peningkatan suhu ini menyebabkan pertumbuhan awan lebih tinggi di wilayah Samudera Pasifik tengah dan mengurangi jumlah curah hujan di Indonesia. BMKG telah memprediksi dampak El Nino mengakibatkan musim kemarau yang lebih ekstrem akan terjadi di berbagai wilayah Indonesia, tidak terkecuali Provinsi Sulawesi Selatan yang sebagian besar wilayahnya berbatasan dengan selat Makassar. Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Makassar, Hanafi Hamzah, mengemukakan bahwa intensitas hujan lebih sedikit itu karena masuk bulan Juli pengaruh El Nino akan semakin terasa. Di Sulawesi Selatan Sulsel, hal ini diprediksi berlangsung pada Juli hingga September. BMKG Makassar memprediksi selama tiga bulan Juli, Agustus, September tidak ada hujan di hampir seluruh wilayah Sulsel, termasuk area pegunungan, meski area ini tidak terlalu terdampak kekeringan. BMKG memprediksi pantai barat akan terdampak signifikan terhadap kekeringan ekstrem, mulai dari Kabupaten Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, Makassar, Gowa sebagian, Takalar, Jeneponto dan Selayar. Kekeringan ekstrem di pantai barat juga dipastikan akan berpengaruh di area pantai timur yakni area Luwu Raya, Bone, Sinjai dan Bulukumba. Begitu pula bagian tengah yakni Kabupaten Soppeng, Bone dan Gowa sebagian. Ancaman kekeringan di 2023 ini akan sangat berpengaruh terhadap sektor pertanian dan berdampak pada ketahanan pangan Sulsel. Ilustrasi. Area persawahan di wilayah Gowa, Sulawesi Selatan. ANTARA/Nur Suhra Wardyah Pemetaan Kekeringan ekstrem yang diprediksi terjadi di musim kemarau tahun ini menjadi perhatian Pemprov Sulsel. Karena itu, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan TPH-Bun telah menyiapkan berbagai strategi guna menghadapi musim kemarau 2023. Sebagai salah satu daerah lumbung pangan di Indonesia, Dinas TPH BUN Sulsel telah menyiapkan sejumlah program antisipatif yang telah dan sedang berjalan saat ini. Program itu di antaranya pemetaan zona rawan kekeringan, manajemen air, pengaturan pola tanam, persiapan benih unggul hingga bantuan substitusi kepada petani jika terjadi gagal panen. Pada pemetaan di sektor pertanian, Dinas TPH BUN Sulsel telah menetapkan tiga kabupaten yang masuk kategori zona merah sebagai daerah yang diindikasi rawan dan sangat terdampak kekeringan. Tiga zona merah terhadap ancaman pertanian di musim kemarau tahun ini yaitu Kabupaten Bone, Soppeng dan Wajo. Kepala Dinas TPH BUN Sulsel Imran Jauzi menjelaskan, penetapan zona ini didasarkan pada data riwayat area pertanian 3 hingga 5 tahun yang lalu jika pernah mengalami kekeringan di musim kemarau. Utamanya dengan luas kekeringan lebih dari hektare. Penetapan zona merah di tiga wilayah ini terbilang sesuai dengan prediksi BMKG terhadap sejumlah daerah yang akan terdampak kekeringan. Kabupaten Bone dan Soppeng merupakan wilayah tengah yang juga diperkirakan terdampak El Nino, begitu pula Wajo, salah satu wilayah pantai barat. Pemetaan ini bukan berarti berlaku untuk seluruh wilayah kabupaten tersebut, namun dikhususkan pada area pertanian yang telah melalui proses identifikasi dengan luas wilayah sekitar hektare. Sehingga dalam langkah-langkah antisipatif di tiga wilayah tersebut menjadi prioritas utama dalam mengatasi dampak kekeringan. Perubahan cuaca, sangat besar dampaknya terhadap sektor pertanian, sebab tidak hanya mengubah produktivitas, tetapi termasuk akan menimbulkan berbagai hama yang berakibat pada penyakit tanaman. Penyakit-penyakit tanaman yang baru akan bermunculan dan gerakan pengendalian harus segera dirancang. Manajemen air dan benih Setelah pemetaan dan penentuan dan zona rawan terdampak kekeringan, upaya lainnya mulai direalisasikan dalam menjaga ketahanan pangan Sulsel di musim kemarau yakni manajemen air dan benih, seperti penggunaan varietas-varietas yang lebih tahan kering. Pada manajemen air, Dinas TPH BUN Sulsel melakukan pengelolaan air yang didukung dengan berbagai perbaikan fasilitas penunjang, di antaranya membangun daerah-daerah irigasi dan merapikan kembali saluran-saluran irigasi khususnya pada wilayah tersier. Selain itu, dibangun embung untuk menampung air hujan yang akan dimanfaatkan pada musim kekeringan mendatang. Upaya lainnya, penggunaan sistem pompanisasi dan perbaikan perpipaan guna memaksimalkan penggunaan air. Air harus digunakan seoptimal mungkin dan mengusahakan agar tidak ada penggunaan air secara berlebihan pada aktivitas pertanian, termasuk dalam pola hidup sehari-hari. Langkah selanjutnya, mengatur pola tanam dan jarak tanam dengan mempercepat penanaman. Jika biasanya jarak tanam petani tiga pekan, maka diminta agar dipercepat menjadi dua pekan harus segera menanam. Hal tersebut guna memaksimalkan stok air yang masih memadai saat ini sebelum memasuki musim kemarau yang diprediksi oleh BMKG bahwa puncak kekeringan terjadi pada Agustus mendatang. Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan TPH-Bun Sulawesi Selatan Imran Jauzi. ANTARA/Nur Suhra Wardyah Penggunaan benih yang bagus, dinilai menjadi langkah yang tepat dalam perbaikan hasil pertanian di tengah ancaman kekeringan. Sebab, kurangnya produktivitas pertanian akan tertutupi dengan hasil pertanian yang lebih berkualitas, sehingga mempengaruhi nilai jual dari berbagai komoditas pertanian. Pembagian benih gratis dinilai juga penting guna mengantisipasi kekeringan, karena kekeringan tidak saja bisa terjadi pada tanaman padi, tapi krisis pangan bisa terjadi pada komoditas pangan lainnya seperti jagung dan sorgum. Pemprov Sulsel sebelumnya telah merilis Program Mandiri Benih sejak 2022 sebagai terobosan untuk mendorong peningkatan produksi tanaman padi. Pada 2022 telah disalurkan sebanyak ton untuk hektare dengan jumlah penerima bantuan benih sebanyak keluarga petani. Program tersebut berhasil meningkatkan produksi pertanian dari tahun sebelumnya. Data statistik menunjukkan, produksi padi di Sulsel yakni 5,34 juta ton dan meningkat sebesar 4,92 persen ton dibanding tahun 2021 hanya sebesar 5,09 juta ton. Sementara pada tahun ini, Pemprov Sulsel kembali menyalurkan secara gratis bantuan benih padi sebanyak ton untuk luas lahan hektare . Selain benih padi, pada Mei 2023, juga disalurkan bantuan bibit perkebunan kakao 3,2 juta batang dan bibit mangga batang, durian batang, jeruk batang ke kabupaten/kota, serta bantuan pupuk dan alat produksi pertanian alsintan untuk para petani di sentra-sentra pengembangan pertanian. Gubernur Sulsel, Andi Sudirman, menegaskan bahwa strategi yang dicanangkan tersebut tidak hanya untuk menyokong ketahanan pangan di Sulsel, tapi juga guna mendukung ketahanan pangan nasional. Sulsel selama ini berkontribusi sekitar 25 persen terhadap pemenuhan kebutuhan beras Slamet Hadi Purnomo COPYRIGHT © ANTARA 2023
Diunggah pada 16 September 2011 114657 1 Kendati hujan telah mengguyur di sejumlah wilayah di Jawa Timur dalam intensitas rendah, cuaca kemarau masih melanda hampir di seluruh wilayah. Kemarau berkepanjangan ini menyebabkan masyarakat kekurangan sumber air bersih dan membuat beberapa lahan sawah di Jatim mengalami kekeringan. Dalam masa kemarau dan pascaserangan hama wereng coklat beberapa waktu lalu, Dinas Pertanian Jatim kerap mengimbau pada petani untuk tak menanam padi. “Jauh hari kami kami telah menyosialisasikan untuk tak menanam padi saat kemarau dan pasca serangan hama wereng. Kalaupun tetap ngotot menanam padi, mungkin hanya petani nekad saja yang melakukan,” kata Kepala Bidang Produksi tanaman Pangan, Ir Ahmad Nurfalakhi saat dikonfirmasi, Jumat 16/9. Dari data Dinas Pertanian Jatim, periode Agustus 2011 tercatat lahan padi yang kering mencapai hektar yang tersebar di sejumlah wilayah. Diantaranya di wilayah Tulungagung seluas 953 hektar, Trenggalek 271 hektar, Pacitan 112 hektar, Sumenep 60 hektar, Mojokerto 21 hektar dan Lamongan 19 hektar. Dari total lahan yang kering di bulan Agustus, yang mengalami puso atau gagal panen mencapai 38 hektar, yaitu di wilayah Mojokerto 18 hektar, Tulungagung 9 hektar, Tuban 6 hektar, Bojonegoro 2 hektar dan Trenggalek 1 hektar. Luas lahan yang kering di Agustus tersebut itu lebih kecil dibanding pada bulan Juli tahun lalu yang melanda hektar tanaman padi. Dengan perincian, wilayah Trenggalek seluas hektar, Tulungagung 811 hektar, Bangkalan 108 hektar, Tuban 50 hektar, Gresik 15 hektar, Jombang 12 hektar, Kediri 10 hektar dan Sumenep 0,5 hektar. Di periode Juli, lahan puso akibat kekeringan mencapai 239 hektar. Yaitu di Trenggalek 163 hektar, Tuban 21 hektar dan Tulungagung 16 hektar. Luasnya lahan padi yang dilanda kekeringan tersebut akibat kurang jelinya petani dalam memilih komoditas yang ditanam saat musim kemarau. Idealnya, saat kemarau petani tidak menanam padi tapi menanam palawija seperti kacang hijau, kedelai, jagung atau menanam komoditas hortikultura seperti Semangka. Besarnya keinginan petani untuk tetap menanam padi di musim kemarau ini dipicu harga jual padi jauh lebih baik dibanding harganya saat musim penghujan. Tingginya harga padi tersebut bisa dilihat dari harga beras yang beredar di pasaran. Untuk yang jenis medium misalnya, masih bertengger di level per kilogram hingga per kilogram. afr
Citicen6, Pati Akibat musim kemarau yang berkepanjangan, tidak sedikit para petani yang tidak bisa melakukan kegiatan di area pertaniannya. Namun hal ini tidak berlaku bagi sebagian petani di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Mereka masih bisa memetik hasil panen dari area persawahannya, bahkan sebagian bersiap untuk tanam padi kembali. Menurut Pemkab Pati, kondisi ini disebabkan karena sejak zaman penjajahan dulu, Pati dikenal sebagai daerah irigasi dengan struktur tanah yang subur. Ditambah lagi area persawahanya mendapat aliran dari kantong air irigasi. Sehingga ketika musim kemarau tiba, para petani di daerah ini masih bisa menanam dan memanen padi. Karena keistimewaan agrarisnya itu, Kabupaten Pati yang terdiri dari 21 Kecamatan, ditetapkan sebagai Lumbung Pangan di Jawa Tengah. Sesuai dengan semboyan kabupaten ini yang berbunyi, “Pati Bumi Mina Tani” atau Pati Bumi Gemah Ripah dari Hasil Pertanian dan Perikanan. Luas persawahan Kabupaten Pati sekitar Hektar. Sebagian besar tadah hujan, karena tidak mendapat aliran irigasi. Pemkab setempat mencatat, dampak kemarau ini disetiap kecamatan tak kurang 70 Hektar lahan sawah mengalami kekeringan. Heru Chris. * Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.
Sumatera Jabar Banten Jateng DI Yogya Jatim Bali Sulawesi Lainnya Sumatera Jawa Bali Daerah Lainnya Tak ada air sawah petani di Aceh Barat mengalami kekeringan. Sumber Tim TvOne/ Chaidir Musim kemarau panjang di Kabupaten Aceh Barat menyebabkan petani di Desa Ie Sayang, Kecamatan Woyla Barat, gagal menanam padi, mengancam perekonomian warga. Kamis, 8 Juni 2023 - 1121 WIB Aceh Barat, - Akibat kemarau panjang yang terjadi selama beberapa bulan terakhir, musim tanam padi yang seharusnya sudah dimulai terpaksa harus dilewati tanpa penanaman oleh petani di Desa Ie Sayang, Kecamatan Woyla Barat, Kabupaten Aceh pertanian yang biasanya digunakan warga untuk menanam padi saat ini mengalami kekeringan karena tidak adanya curah Desa Ie Sayang, Abu Yazid, mengatakan bahwa kekeringan telah melanda desa tersebut selama 3 bulan terakhir. Para petani sebelumnya telah membajak sawah untuk persiapan penanaman, namun karena hujan tak kunjung turun, penanaman padi terpaksa ditunda."Kami sebelumnya telah merencanakan penanaman padi, namun karena kondisi alam yang tidak mendukung, kami terpaksa menundanya," kata Abu Yazid pada Selasa 8/6/2023.Yazid menjelaskan bahwa masyarakat di Desa Ie Sayang biasanya melakukan penanaman padi dengan metode tanam setahun sekali dan mengandalkan air hujan. Oleh karena itu, musim kemarau yang berkepanjangan sangat berdampak pada perekonomian warga. Ia juga mengungkapkan bahwa di Desa Ie Sayang terdapat sekitar 30 hektar lahan yang siap ditanami padi, dengan hasil produksi sebanyak ton lebih per hektar."Sebelumnya, kami hanya mengandalkan air hujan, dan sekarang ketika hujan tidak turun, maka kami sebagai petani gagal panen," jelas Yazid. Halaman Selanjutnya Selain itu, masyarakat juga telah melaporkan masalah ini kepada ketua kelompok tani setempat agar dapat diteruskan kepada pemerintah setempat. Mereka berharap pemerintah dapat menyediakan pompa air sebagai solusi ketika musim kemarau tiba. Berita Terkait Puluhan Hektar Sawah Petani Nagan Raya Mengering Risih dengan Aktivitas Pengajian, Seorang Warga Meureubo Nekat Bakar Balai Pengajian Tidak Bisa Baca Alquran, 11 Orang Bacaleg di Aceh Barat Gugur Terbakarnya Conveyer Batu Bara PT BTI di Pelabuhan Jetty Meulaboh, Masih dalam Penyelidikan Polres Aceh Barat Topik Terkait Tak Kunjung Hujan Petani Aceh Barat Gagal Tanam Padi Kemarau Panjang Desa Ie Sayang Kecamatan Woyla Barat Kabupaten Aceh Barat Sawah Pertanian Padi Kering Kekeringan Penanaman Padi Saksikan Juga Jangan Lewatkan Mario Dandy Bayar Restitusi Rp100 M ke David Ozora, Pengacara Semua Hartanya Bisa Disita Nasional 16/06/2023 - 0520 Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban LPSK mencatat restitusi biaya perawatan rumah sakit hingga kondisi sampai saat ini korban penganiayaan David Ozora 17 mencapai seratus miliar rupiah lebih. Ingat Anggita Sari? Sempat Dikabarkan Berhubungan Intim dengan Freddy Budiman di Lapas, Begini Pengakuannya Nasional 16/06/2023 - 0505 Wanita seksi, Anggita Sari kembali dikaitkan dengan Freddy Budiman yang berhubungan intim dengannya di Lapas. Berikut pengakuan dari DJ cantik, Anggita Sari Reaksi Denny Indrayana hingga PDIP Soal Putusan MK yang Sahkan Sistem Proporsional Terbuka Nasional 16/06/2023 - 0505 Tanggapan sejumlah partai terkait putusan Mahkamah Konstitusi MK yang memutuskan Sistem Pemilu 2024 yakni proposional terbuka hingga PDIP dan Denny Indrayana. JPU Kejati Sumatera Utara Tuntut Bos Judi Online Apin BK Dituntut 5 Tahun Penjara Kasus Perjudian dan TPPU Sumatera 16/06/2023 - 0500 Bos judi online terbesar di Sumatra Utara Joni alias Apin BK dituntut 5 tahun penjara atas tindakan perjudian online dan Tindak Pidana Pencucian Uang TPPU. Syahrul Yasin Limpo Dipanggil KPK Hari Ini, Ini Profilenya Nasional 16/06/2023 - 0500 Kepala Bagian Pemberitaan KPK, Ali Fikri mengatakan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo SYL telah dipanggil Komisi Pemberantasan Korupsi KPK terkait dugaan korupsi di Kementerian Pertanian Kementan. Komunitas Anti Mafia Tanah Komat, Desak Hakim Hukum Seberat-beratnya Sutrisno Lukito Banten 16/06/2023 - 0453 Komat yang berjanji akan terus kawal jalannya persidangan tersangka kasus mafia tanah Sutrisno Lukito serta kembali menggelar aksi keprihatinan di PNTangerang. Trending Rumah Kos di Kota Batu Terbakar, Diduga ada Unsur Kesengajaan, Polisi Masih Proses Penyelidikan Jatim 16/06/2023 - 0009 Insiden yang mengejutkan, sebuah rumah kos di lingkungan padat penduduk yang terletak di Kota Batu dilalap api, mengakibatkan kerugian properti yang cukup besar dan membuat beberapa penghuni trauma. Selain Lionel Messi, Dua Pemain Argentina Ini Dipastikan Absen Lawan Timnas Indonesia Bola Dunia 16/06/2023 - 0338 Pelatih Argentina Lionel Scaloni memastikan tiga pemain tidak dibawa dalam laga kontra Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin 19/6/2023. 7 Hari Berat Badan Turun 20 Kg, Ternyata Segampang Itu Tanpa Diet dan Olahraga, Kata dr Zaidul Akbar Cukup Makan… Kesehatan 16/06/2023 - 0430 Tak disangka ternyata cara menurunkan berat badan sebanyak 20 kg sangat mudah. Menurut dr Zaidul Akbar tak perlu diet dan olahraga, cukup makan ini saja... KPK Resmi Tahan 9 Orang ASN Ditjen Minerba Tersangka Korupsi Tunjangan Kinerja di Kementerian ESDM Nasional 16/06/2023 - 0007 KPK resmi menahan sembilan ASN pada Ditjen Minerba Kementerian ESDM yang dijerat tersangka dalam kasus korupsi tunjangan kinerja Tukin tahun 2020-2022. Nekat Mendaki Gunung Api Dempo Sendirian, Sulaiman Meninggal Dunia Diduga Akibat Kelaparan dan Hipotermia Sumatera 16/06/2023 - 0122 Nekat mendaki sedirian, Sulaiman Bin Samsudin warga Dusun Sumber Karya Kecamatan Gumai Ulu Kabupaten Lahat meninggal dunia di Kawasan Kawah Gunung Api Dempo. Ada Tulisan Bernada Ancaman Diduga Ditulis Al Zaytun untuk Pendemo Jangan Tanya Apa yang Akan Terjadi Jabar 16/06/2023 - 0405 Tulisan Al Zaytun berbunyi atau bernada ancaman. Dalam tulisan tersebut ditulis ratusan pengunjuk rasa akan disambut orang yang menempel di tiang listrik Ingat Anggita Sari? Sempat Dikabarkan Berhubungan Intim dengan Freddy Budiman di Lapas, Begini Pengakuannya Nasional 16/06/2023 - 0505 Wanita seksi, Anggita Sari kembali dikaitkan dengan Freddy Budiman yang berhubungan intim dengannya di Lapas. Berikut pengakuan dari DJ cantik, Anggita Sari Selengkapnya Viral Jadwal Hari Ini 0600 - 0630 Kabar Arena Pagi 0630 - 0800 Apa Kabar Indonesia Pagi 0800 - 0900 Rumah Mamah Dedeh 0900 - 1000 Hidup Sehat bersama dr. Ekles Selengkapnya
mengapa pada musim kemarau para petani tidak menanam padi